Purwokerto (ANTARA) - Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar berbagi tips untuk mahasiswa bisa "survive" atau bertahan hidup di era digital.

“Dalam krisis, yang kuat adalah orang-orang yang punya intelektualitas, yang mampu berpikir dan mengambil keputusan,” kata Benny Siga Butarbutar, Jumat.

Benny mengungkapkan kiat bertahan hidup tersebut dalam kuliah umum bertema “Literasi Media: Peran Kantor Berita dalam Membangun Peradaban Bangsa di Era Digital” di Auditorium FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Baca juga: ANTARA dapat restu BP BUMN jadi aktor ekosistem informasi negara

Kepada mahasiswa, pria yang akrab disapa Bang Benny ini mengatakan, kebiasaan masyarakat sekarang telah berubah dalam mendapatkan informasi seiring perkembangan teknologi digital dan medsos.

Tanpa disadari hal tersebut telah membentuk persepsi, karakter, dan pola pengambilan keputusan, terutama bagi generasi muda.

Namun, kemajuan tersebut juga membawa konsekuensi. Tanpa adanya filter dari seseorang untuk memilah dan mencerna banyaknya informasi yang sangat banyak, lanjutnya, akan membuat orang kehilangan daya kritis.

Yang lebih jauh lagi, tanpa kemampuan seleksi informasi, akan melemahkan karakter seseorang.

“Kalau (kita) tidak punya kapasitas untuk menyeleksi, maka esensi kemanusiaan bisa terkikis,” ungkapnya.


Baca juga: Kepala Staf Kepresidenan Dukung ANTARA sebagai Ekosistem Narasi Utama Pemerintah
 

Benny menilai bahwa peran dan "value" dari sebuah media kni tidak lagi sekadar kecepatan menyiarkan berita. Sangat diperlukan berita yang mengandung akurasi, kredibilitas, dan otoritas dalam membangun narasi publik.

“The age of velocity adalah era ketika informasi bergerak lebih cepat daripada proses verifikasi. Karena itu, nilai media bukan lagi sekadar kecepatan, tetapi kepercayaan, akurasi, dan otoritas narasi,” katanya.

Karena itu, Benny mengatakan ANTARA terus bertransformasi agar tidak sekadar menjadi penyedia berita, tetapi juga menjadi bagian penting dalam ekosistem informasi nasional.

“ANTARA bukan lagi sekadar news agency, tetapi harus menjadi aktor ekosistem informasi negara dan sumber informasi yang dipercaya publik,” katanya.

Kuliah umum tersebut merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) BUMN yang dijalankan ANTARA.

Menurut dia, kampus menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai intelektualitas, kemampuan berpikir kritis, dan pemahaman mengenai perkembangan media konvensional, media baru, media sosial, hingga teknologi kecerdasan artifisial.

Menurut dia, Indonesia kini membutuhkan ketahanan informasi agar masyarakat mampu membedakan informasi yang bernilai, akurat, dan objektif di tengah banjir informasi digital.

“Informasi yang dibentuk harus berkualitas, ada objektivitas, ada cross-check, dan akurasi lebih penting daripada sekadar cepat,” ujarnya.
 

Baca juga: ANTARA gencarkan publikasi percepatan rehabilitasi pascabencana Sumatera
 

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unsoed Norman Arie Prayogo mengatakan perguruan tinggi menghadapi tantangan besar di tengah derasnya arus informasi digital. 

Sebabnya, arus informasi yang deras sangat mudah didapatkan sesorang seringkali tidak semuanya benar, bahkan bisa menyesatkan.

“Mahasiswa sebagai calon profesional harus mampu mengenali bias, melawan hoaks, dan menggunakan media sebagai alat penyebaran perubahan yang positif,” katanya.

 

 

Baca juga: LKBN ANTARA salurkan kebutuhan dasar untuk korban banjir Aceh Tamiang

 

Pewarta: Sumarwoto
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026