"Korban yang jatuh menurut saya mencerminkan ketegangan dan tekanan mental para penyelenggara pemilu, disamping mungkin kondisi tubuh yang tidak optimal," kata Firman saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Profesor riset termuda LIPI itu mengatakan ketegangan dan tekanan mental yang dihadapi para penyelenggara pemilu bisa jadi karena rasa tanggung jawab terhadap tugasnya.
Apalagi, sejak sebelum pemungutan suara sudah ada wacana-wacana ketidakpercayaan terhadap proses pemilu sehingga para anggota KPPS menjaga proses pemungutan suara, surat suara dan kotak suara sedemikian rupa tanpa menghiraukan kondisi tubuhnya.
Baca juga: Sekretaris PPK Baktiya meninggal dunia akibat kelelahan
Baca juga: Tiga anggota PPK di Aceh Jaya pingsan saat rekab suara
"Sebetulnya bila sistem yang terbentuk sudah berjalan dengan baik, bisa saja penjagaan seluruh proses dilakukan secara estafet dari KPPS ke petugas polisi," tuturnya.
Namun, Firman menduga banyak anggota kepolisian yang juga kelelahan dalam mengawal proses pemilu.
Menurut Firman, hal itu mudah terjadi karena ketidakpercayaan terhadap proses pemilu akibat pelajaran-pelajaran pahit dari proses pemilu yang terjadi sebelumnya.
"Di negara-negara yang tingkat kepercayaan publiknya tinggi, hal itu tidak akan terjadi," ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menyebutkan hingga Senin (22/4) malam, jumlah petugas KPPS yang meninggal 91 orang tersebar di 19 provinsi dan 374 petugas sakit.
Pewarta: Dewanto SamodroUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026