Banda Aceh (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh menyebut, bahwa telah memiliki composting house atau rumah pengomposan dengan memanfaatkan sampah organik demi mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan terutama di kawasan perkotaan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Keindahan Kota (DLHK3) Kota Banda Aceh, Hamdani di Banda Aceh, Jumat, mengatakan, rumah pengomposan ini berada di Gampong (Desa) Ilie, Kecamatan Ulee Kareng.
"Terkait program kompos skala komunal di Gampong Ilie itu, sudah sekitar lima tahun yang lalu. Telah kita bangun, namun tidak nampak karena tidak tereskpos," katanya.
Lewat program itu, lanjut dia, pihaknya akan mengambil sampah-sampah organik yang berlokasi di sekitar Pasar Ulee Kareng, dan desa sekitarnya untuk diolah kembali menjadi pupuk kompos.
Setiap bulannya rumah kompos tersebut baru mampu menampung dua ton sampah organik dari kapasitas keseluruhan sebanyak 50 ton dengan proses pengolahan menggunakan metode windrow atau sistem pengomposan di tempat terbuka.
"Sebelum dikomposkan, sampah organik akan melewati beberapa tahap, di antaranya pencacahan menggunakan mesin pencacah sampah. Lalu ditumpuk, dan diaduk satu hingga dua kali dalam sepekan," terang dia.
Kepala Seksi Teknologi Pengelolaan Sampah DLHK3 Kota Banda Aceh, Rosdiana, menambahkan, proses penumpukan tersebut memakan waktu tiga sampai enam bulan atau tergantung bahan baku sampah organiknya.
"Proses pembusukan, tergantung dari bahan baku itu sendiri. Kalau sampah buah, sayur itu lebih cepat, yakni tiga bulan. Sedangkan untuk sampah, seperti ampas tebu itu bisa sampai enam bulan baru siap diproses," jelas dia.
Setelah ditumpuk, tuturnya, sampah tersebut akan dikeringkan dua pekan, kemudian baru diayak, dan didiamkan selama sehari sebelum terakhir dikemas.
Ia mengatakan, setelah proses pengemasan dilakukan, maka kompos tersebut dibagikan kepada warga sekitar. Beberapa di antaranya dijual ke pengusaha garden atau taman dengan harga relatif murah sebesar Rp15.000 per kilogram.
"Selain garden di sekitar Kota Banda Aceh, dan juga masyarakat sekitar kita bagi secara cuma cuma. Kadang juga digunakan pemupukan untuk taman disekitar Kota Banda Aceh," ucap Rosdiana.
