Meulaboh (ANTARA Aceh)- Sedikitnya 29.330 petani di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh membutuhkan sekitar 1.000-an mesin pertanian 'hand tractor' untuk mengurangi kejerihan petani mencapai program swasembada pangan.
"Kejerihan petani kita masih terlampau besar terutama ketika olah tanah dan pascapanen, untuk itu kita mesti perlu sekitar 1.000-an hend tractor. Itulah sedang kita kejar dan pemerintah sangat konsen terhadap itu sehingga setiap tahun pada dinas dilakukan pengadan," kata Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Aceh Barat Ulul Izmi, di Meulaboh, Jum'at.
Untuk terlaksana tanam serentak yang merupakan bagian dari upaya program pencapaian swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional akan sulit dicapai daerah manapun di Indonesia apabila masyarakat petani masih berpola pada pertanian alami karena belum didukung sarana pertanian berteknologi.
Ulul Izmi menyampaikan, apabila dibandingkan ketersediaan mesin pertanian dengan luas lahan pertanian tanaman padi 16.884 hektare masih sangat jauh, sehingga untuk pola tanam serentak hanya mampu dicapai oleh satu kecamatan sentra produksi pertanian kawasan itu.
Para penyuluh tidak yakin program pemerintah membagikan mesin olah sawah akan mencukupi dengan rentang waktu begitu lama karena ada sebagian daerah harus menunggu giliran kebagian jatah bantuan pemerintah pusat itu.
"Bagi-bagi alat bajak sawah itu hanya bilang-bilang saja, tahun ini melalui Dinas Pertanian kita cuma dikasih 30 buah kapan cukup seribuan, sementara alat ini hanya bisa digunakan kisaran 3-4 kali musim, setelah itu digudangkan karena tidak kuat lagi membajak," tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan, selain alat pengolah tanah para petani setempat juga sangat membutuhkan alat perontok padi (Power Thresher) dan alat pemotong padi (reaper) untuk mengurangi kejerihan terlampau besar saat olah tanah sampai pasca panen karena sebagian besar lahan pertanian area tadah hujan.
Belum lagi persoalan terbatas tenaga penyuluh dilapangan, kata Ulum Izmi saat ini 29.330 orang petani harus didampingi 138 orang tenaga penyuluh, kondisi demikian membuat penyuluh harus dipaksa bekerja ekstra keras untuk mencapai program pemerintah pusat.
Untuk setiap penyuluh kata dia mendapatkan 3-4 desa pendampingan dengan jumlah rata-rata 3-5 kelompok tani, untuk mengunjungi masyarakat petani juga terbatas sarana pendukung seperti kendaraan roda dua agar mencapai lokasi lahan pertanian.
"Yang sangat dibutuhkan adalah hend tractor, mesin perontok dan alat pemotong padi. Disamping itu juga kita perlu menambah tenaga kerja dilapangan 140 orang lagi dan ini yang sangat perlu mendapat perhatian serius,"katanya menambahkan.
"Kejerihan petani kita masih terlampau besar terutama ketika olah tanah dan pascapanen, untuk itu kita mesti perlu sekitar 1.000-an hend tractor. Itulah sedang kita kejar dan pemerintah sangat konsen terhadap itu sehingga setiap tahun pada dinas dilakukan pengadan," kata Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Aceh Barat Ulul Izmi, di Meulaboh, Jum'at.
Untuk terlaksana tanam serentak yang merupakan bagian dari upaya program pencapaian swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional akan sulit dicapai daerah manapun di Indonesia apabila masyarakat petani masih berpola pada pertanian alami karena belum didukung sarana pertanian berteknologi.
Ulul Izmi menyampaikan, apabila dibandingkan ketersediaan mesin pertanian dengan luas lahan pertanian tanaman padi 16.884 hektare masih sangat jauh, sehingga untuk pola tanam serentak hanya mampu dicapai oleh satu kecamatan sentra produksi pertanian kawasan itu.
Para penyuluh tidak yakin program pemerintah membagikan mesin olah sawah akan mencukupi dengan rentang waktu begitu lama karena ada sebagian daerah harus menunggu giliran kebagian jatah bantuan pemerintah pusat itu.
"Bagi-bagi alat bajak sawah itu hanya bilang-bilang saja, tahun ini melalui Dinas Pertanian kita cuma dikasih 30 buah kapan cukup seribuan, sementara alat ini hanya bisa digunakan kisaran 3-4 kali musim, setelah itu digudangkan karena tidak kuat lagi membajak," tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan, selain alat pengolah tanah para petani setempat juga sangat membutuhkan alat perontok padi (Power Thresher) dan alat pemotong padi (reaper) untuk mengurangi kejerihan terlampau besar saat olah tanah sampai pasca panen karena sebagian besar lahan pertanian area tadah hujan.
Belum lagi persoalan terbatas tenaga penyuluh dilapangan, kata Ulum Izmi saat ini 29.330 orang petani harus didampingi 138 orang tenaga penyuluh, kondisi demikian membuat penyuluh harus dipaksa bekerja ekstra keras untuk mencapai program pemerintah pusat.
Untuk setiap penyuluh kata dia mendapatkan 3-4 desa pendampingan dengan jumlah rata-rata 3-5 kelompok tani, untuk mengunjungi masyarakat petani juga terbatas sarana pendukung seperti kendaraan roda dua agar mencapai lokasi lahan pertanian.
"Yang sangat dibutuhkan adalah hend tractor, mesin perontok dan alat pemotong padi. Disamping itu juga kita perlu menambah tenaga kerja dilapangan 140 orang lagi dan ini yang sangat perlu mendapat perhatian serius,"katanya menambahkan.
Pewarta: Pewarta : AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026