Blangpidie (ANTARA Aceh) - Di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), komoditi kakao merupakan tanaman perkebunan primadona petani setelah kelapa sawit, sehingga, pemkab setempat terdorong kembali untuk melakukan kerjasama dengan swisscontact.

Asisten Ekonomi dan pembangunan, pada pemkab Abdya,  M.Nafis A Manaf di Blangpidie, Rabu, mengatakan, untuk saat ini luas lahan kakao di Abdya sekitar 4.075 hektar dari luas lahan perkebunan di kabupatennya.

''Masyarakat Abdya yang selama ini mengusahakan tanaman kakao di kebun pribadinya berjumlah 6.210 kepala keluarga (KK) dengan luas lahan mencapai 4.075 hektar,'' katanya di sela-sela acara pembukaan seminar dan temu lapang petani kakao di Kecamatan Kuala Batee.

Seminar dan temu lapang petani kakao tersebut diselenggarakan oleh Bappeda bekerjasama dengan swiscontect berlangsung di kecamatan Kuala Batee, di hadiri oleh Roland Pakpahan, manager program swiscontect wilayah pulau Sumatera, Asisten II Abdya, Muspika Kuala Batee dan ratusan petani dan penyuluh.

Nafis, menerangkan, sistim budidaya kakao di Abdya selama ini telah berkembang baik secara ekstensifikasi maupun intensifikasi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan dengan produktifitas rata-rata 769 kilogram per hektar.

Pun demikian, lanjutnya, para petani dipedesaan masih banyak juga yang mengeluh, terutama, keluhan pada bidang teknologi pengolahan biji kakao pasca panen dan termasuk cara meningkatkan harga nilai jual yang tinggi.

''Oleh karena itulah, pemkab Abdya terus mendorong para petani-petani kakao ini, terutama, dalam melakukan pendampingan dan pembinaan demi untuk kemajuan dan kemakmuran petani,'' katanya

Demi tercapainya kemakmuran para petani kakao, kata dia, pihak pemkab Abdya melakukan kerjasama dalam skala besar dengan pihak swiss State Secretariat for Ekonomic Affairs, The Sustainable Trade Iniviatif dan kedutaan Belanda.

Melalui program kerjasama produksi kakao berkelanjutan,  sambungnya, program menargetkan penglibatan 60 ribu petani dalam pengembangan kafasitas, guna meningkatkan produksi dan dan mutu kakao.

''Jadi, dari 1.100 kelompok tani di Abdya, kita targetkan, sekurang-kurangnya, 200 usaha kecil  kakao yang ada di tingkat kecamatan diikutkan dalam penguatan manajerial, keuangan, dan peningkatan kafasitas organisasi,'' katanya

Selain dari itu, kata dia, program kerjasama ini juga mentargetkan sertifikasi standar keberlanjutan internasional bagi petani kakao Abdya dalam meningkatkan prospek keberlangsungan pada sektor kakao di Indonesia, apalagi, program ini sudah diterapkan sejak tahun 2013 lalu.

''Dengan program ini, telah memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan peningkatan produksi sehingga, pada tahun 2015 ini kegiatan ini kemnali kita lakukan dengan tujuan sebagai ajang perluasan proses dari hasil sekolah lapang,'' demikian Nafis A Manaf. 



Pewarta: Pewarta : Suprian
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026