Sri Lestari (41) tidak bisa menahan air matanya ketika anak-anak dari Sekolah Dasar Luar Biasa Banda Aceh berpakaian adat Aceh menampilkan tarian di hadapannya.
Yang membuat Sri terharu, karena tarian tersebut dibawakan anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik seperti dirinya.
Oleh karenanya, Sri yang juga penyandang difabel langsung menangis bercampur gembira ketika anak-anak membawakan tarian yang juga ditujukan untuk pelepasan dirinya mengawali perjalanan melintasi Sumatera dari Aceh ke Jakarta, di Banda Aceh, Minggu (7/9).
Perjalanan inspiratif itu juga mendapat sambutan dari Pemerintah Aceh dan Kota Banda Aceh, sehingga Wali Kota Illiza Saaduddin Djamal dan Kadis Sosial Aceh Bakhtiar berkenan melepas Sri dan para komunitas difabel di daerah itu.
Sebelumnya, Sri sudah melakukan perjalanan dari KM 0 di Sabang, Sabtu (6/9), sehingga perjalanan ini dimulai dari titik 0 Indonesia bagian barat.
Dari Banda Aceh, Sri akan melakukan perjalanan dengan motor modifikasinya menuju Kabupaten Aceh Besar, dan terus menelusuri pantai timur utara Aceh menuju perbatasan Sumatera Utara.
Perjalanan lintas Sumatera dari Banda Aceh ke Jakarta yang akan membutuhkan waktu 40 hari itu dalam rangka memberi insprirasi kepada teman-teman difabel lainnya yang masih banyak tinggal di rumah.
Perjalanan ini yang kedua dilakukan Sri, karena sebelumnya pada tahun 2013, warga Klaten, Jawa Tengah, itu melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bali.
Dalam perjalanan Aceh-Jakarta, Sri ditemani oleh lima orang di antaranya adik, satu orang pembantu pengemudi, serta tiga orang untuk dokumentasi.
Aksi inspiratif Sri ini didukung oleh berbagai pihak, baik organisasi maupun relawan, di antaranya Yayasan Roda untuk Kemanusiaan Indonesia - Wheels for Humanity, Produsen Sepada Motor TVS, Inspirasia, dan sejumlah aktivis sosial kemanusiaan serta para aktivis pelaku media.
Ternyata, keterbatasan tidak menjadi halangan bagi seseorang dalam mewujudkan mimpi. Inilah yang menginspirasi Sri yang mengalami kelumpuhan di kedua kakinya untuk melewati jarak dari Aceh ke Jakarta.
Semangat dan keberanian Sri ternyata mendapat apresiasi dari Wali Kota Illiza. Karena, menurut dia, meskipun dalam kondisi fisik yang tidak sempurna, tapi wanita separuh baya ini masih memiliki semangat yang luar biasa untuk melakukan perjalanan yang cukup melelahkan tersebut.
"Kita berharap, perjalanan insprirasi Sri ini bisa membangkitkan semangat penyandang difabel lainnya di Indonesia, khususnya di Aceh, bahwa keterbatasan fisik tidak menghambat manusia untuk berbuat positif yang berguna untuk dirinya dan orang lain," katanya.
Demikian juga, Kadis Sosial Bukhari menyatakan, perjalanan Sri ini akan menyentuh kehidupan banyak orang, menambah spririt untuk memperjuangkan hak-hak para penyandang difabel dan memberikan insprirasi dan motivasi bagi mereka.
Dinas Sosial sebagai sebagai salah satu leading sektor dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial bagi para penyandang disabilitas akan terus berupaya melaksanakan dan mengembangkan program bagi penyandang disabilitas, katanya.
Bertemu masyarakat
Selama dalam perjalanan, Sri tidak hanya melintasi Sumatera, tapi dia yang didampingi beberapa pendamping akan menyempatkan diri untuk bersilaturrahim dengan masyarakat, khususnya yang keluarganya penyandang difabel.
"Saya akan bersilaturrahim dengan keluarga yang ada penyandang difabel dan memberi semangat kepada mereka, agar bisa berbuat lebih baik lagi dan tidak tinggal di rumah," katanya.
Menurut dia, masih banyak difabel yang tidak memiliki akses, bahkan keluar rumah. Jadi, melalui perjalanan ini, dirinya ingin menyadarkan banyak pihak, terutama pemerintah untuk mulai membangun fasilitas pendukung bagi para difabel.
Ia berharap, pemerintah baru mendatang lebih memperhatikan penyandang difabel dengan membangun fasilitas yang bisa diakses, khususnya fasilitas umum yang dinilai masih sangat kurang.
Menurut dia, karena terbatasnya fasiltas, maka banyak penyadang difabel lebih banyak berada di rumah, sehingga tidak memiliki kreatifitas untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat.
Ia mencontohkan, dirinya sampai sekarang belum bisa naik bus sendiri, karena memang pihak perusahaan belum memberi akses bagi difabel. Demikian juga di tempat-tempat umum lainnya.
Namun, ia melihat setiap tahun ada perkembangan fasiitas pendukung meski lambat, seperti di Banda Aceh juga sudah ada badan jalan khusus untuk difabel yang menggunakan kursi roda, di kantor wali kota sudah ada, juga di Museum Tsunami.
Menurut dia, idealnya pemerintah dan swasta memberi akses kepada penyandang difabel di fasilitas umum, seperti rumah sakit atau puskesmas, pusat pertokoan, WC umum dan sekolah.
Sri menyatakan, sebenarnya penyadang difabel ini berpotensi, apabila diberi kesempatan, tapi karena perhatian pemerintah terhadap mereka masih kecil, maka sulit untuk berkembang.
Lumpuh
Kekurangan fisik Sri berbeda dengan penyandang difabel lainnya. Pada usia 23 tahun, Sri mengalami kecelakaan yang menyebabkan dirinya menjadi lumpuh mulai pinggang ke bawah, sehingga ia menyandang difable (different ability).
Kecelakaan itu sangat parah hingga, dokter menyebutkan ia akan lumpuh sepanjang hidupnya.
Orang tuanya kemudian mencoba mencari pengobatan alternatif, termasuk mengikuti kepercayaan yang menyarankan agar membiarkan Sri hidup di hutan. Namun setelah delapan bulan tak berhasil, orangtuanya membawa Sri pulang.
Sejak itu ia tinggal di rumah tanpa kegiatan. Kadang-kadang membuat bordir. Namun secara umum, katanya, hidupnya membosankan. Ia terus berada di atas kursi roda di dalam atau sekitar rumah. Ia merasa tersiksa karena tidak produktif.
Segalanya berubah sejak ia memodifikasi sepeda motor. Sepeda motor itu dibuat sedemikian rupa hingga bisa ia kendarai sendiri tanpa bantuan orang lain. Caranya dengan menambahkan gerobak di sisi kirinya untuk kursi rodanya sehingga ia naik sepeda motor dan mengendarainya sambil tetap duduk di kursi roda.
Dengan sepeda motor itu juga memberanikan diri untuk melakukan perjalanan Jakarta-Bali.
"Saya punya mimpi untuk bisa menginspirasi. Perjalanan dimulai dari Monas, Jakarta dan berakhir di Bali. Saya ingin membuktikan bahwa orang difabel juga dapat mewujudkan mimpi," katanya.
Karena mobilisasinya meningkat ia kemudian bisa mendapat pekerjaan sebagai pekerja sosial diĀ United Cerebral Palsy, Wheels for Humanity, UCP Roda untuk Kemanusiaan) sejak tahun 2009.
Sri juga akan melakukan pengumpulan dana sehingga UCP Roda Untuk Kemanusiaan bisa terus melanjutkan penyediaan kursi roda ke seluruh Indonesia.
"Jadi, saya berjanji akan menghabiskan sisa hidup ini untuk kegiatan yang berguna bagi orang lain," katanya.
Perjalanan Sri Menginspirasi Penyandang Difabel
Senin, 8 September 2014 12:37 WIB
Sri Difabel.
