Kabid Kesehatan Hewan dan Peternakan pada Dinas Kelautan Peternakan dan Pertanian Kota Lhokseumawe Dahlina, Kamis mengatakan, bahwa hampir semua tempat usaha peternakan kambing milik masyarakat di Lhokseumawe, umumnya membudidayakan kambing kacangan.
Sedangkan kambing peranakan luar daerah, seperti jenis Etawa dan lain sebagainya, butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan. Bahkan, karena sulitnya beradaptasi dengan lingkungan, mudah terserang penyakit. Seperti penyakit Kembung dan lain sebagainya.
Sementara kambing kacangan, meski ukuran tubuhnya kecil, namun memiliki daya tahan dan sudah terbiasa dengan kondisi alam dan cuaca di Lhoksuemawe.
“Kalau kambing peranakan luar, berkembang juga disini. Namun butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan. Serta pola perawatan juga berbeda dengan kambing biasa yang telah lama dibudidayakan masyarakat,†ujar Dahlina.
Dahlina juga menyebutkan, lebih dominannya masyarakat beternak kambing lokal, selain disebabkan oleh daya tahan dan mudah beradaptasi dengan lingkungan, juga lebih mudah dalam memasarkannya.
Karena untuk kebutuhan daging kambing, pedagang lebih menyukai kambing lokal untuk kebutuhan rumah makan dan juga usaha kuliner. Apalagi, di Lhokseumawe jumlah rumah makan yang menjual Kari Kambing terus berkembang.
“Umumnya juga, daging kambing yang mudah dipasarkan untuk kebutuhan usaha kuliner seperti Kari Kambing dan juga sate Kambing, lebih banyak dari jenis kambing kacangan. Karena memiliki rasa daging yang lebih diminati dibandingkan dengan jenis kambing peranakan luar,†ungkap Dahlina.
Dirinya juga menyebutkan, kawasan peternakan kambing di Lhokseumawe banyak dibudidayakan di kecamatan Muara Satu, Muara Dua dan Kecamatan Blang Mangat.
