Banda Aceh (ANTARA) - Korban banjir bandang yang mengungsi di tenda-tenda di Kabupaten Aceh Tamiang membutuhkan air bersih serta tempat mandi cuci kakus (MCK) untuk keperluan sehari-hari.
"Korban banjir membutuhkan air bersih dan tempat MCK yang layak, terutama yang mengungsi di tenda-tenda. Pengungsi di tenda-tenda di antaranya berada di kompleks perkantoran di Karang Baru," kata Ramadan, korban banjir yang dihubungi dari Banda Aceh, Jumat.
Ia menyebutkan ada 500-an pengungsi di tenda-tenda di sekitar kompleks perkantoran pemerintahan tersebut. Sebagian besar mereka berasal dari Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.
Ramadan mengatakan korban banjir tersebut ada rumahnya hilang dan rusak parah diterjang banjir, serta ada juga rumahnya tertimbun lumpur lebih dari satu meter.
"Tempat MCK di tempat pengungsian jauh dari kata layak. Tempat MCK seadanya dan ini membuat pengungsi, terutama wanita merasa tidak nyaman. Apalagi sebagian korban banjir belum bisa kembali karena rumah masih tertimbun lumpur," kata Ramadan.
Sebelumnya, Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto melaporkan kondisi pemulihan layanan air bersih di wilayahnya pascabencana banjir.
Bupati mengungkapkan fasilitas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat mengalami kerusakan berat akibat bencana banjir yang melanda pada akhir November 2025.
"PDAM kami mengalami kerusakan yang cukup fatal dan saat ini sedang dalam tahap perbaikan. Saat ini, layanan distribusi air bersih baru kembali menjangkau dua kecamatan, yakni Kuala Simpang dan Karang Baru," katanya.
Dukungan telah diberikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupa dua unit genset untuk memperkuat pasokan listrik di instalasi air, kata Armia Fahmi.
"Bantuan TNI dan Polri dalam pengeboran sumur tanah membantu masyarakat. Kebutuhan air bersih warga turut dipenuhi melalui upaya darurat," katanya.
