Rabu, 20 September 2017

Ribuan Kader HTI Ramaikan Rapat Akbar

id Hizbut Tahrir Indonesia
Ribuan Kader HTI Ramaikan Rapat Akbar
Jamaah Hizbut Tahrir Indonesia propinsi Aceh, mengibarkan bendera disertai teriakan Allahu Akbar saat mengikuti rapat akbar di stadion Hadimurthala, Banda Aceh, Minggu (24/5). Rapat akbar yang diikuti ribuan peserta dari kabupaten/kota se-Aceh dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan tersebut menyerukan umat muslim untuk menegakkan khilafah, syariat Islam secara kaffah serta mendesak pemerintah dan PBB membela etnis Rohingya atas hak hidup mereka dan hak atas tanah airnya. (ACEH.ANTARANEWS/Ampelsa/15)
Banda Aceh (ANTARA Aceh) - Ribuan kader dan simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia turut meramaikan rapat dan pawai akbar dipusatkan di Stadion Dimurthala, Kota Banda Aceh, Minggu.

Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto mengatakan, rapat dan pawai akbar ini digelar untuk meningkatkan rasa persaudaraan dan perjuangan menegakkan syariat Islam.

"Rapat akbar ini merupakan rangkaian kegiatan HTI di 36 kota di Indonesia. Banda Aceh merupakan ke 34 dan puncaknya di Jakarta pada 30 Mei mendatang," kata dia.

Dalam rapat akbar tersebut, kata Muhammad Ismail Yusanto, HTI menyerukan perlawanan terhadap neoliberalisme. Sebab, Indonesia terancam dikuasai neoliberalisme.

"Neoliberalisme terbukti menyengsarakan rakyat. Mari kita tegakkan syariah Islam. Ekonomi syariah lebih baik dari segala faham yang ada di dunia ini," kata Muhammad Ismail Yusanto yang didampingi Kepala Humas HTI Aceh Rahmad Ibnu Umar.

Jika Indonesia dikuasai neoliberalisme, maka pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Semua perekonomian masyarakat diatur oleh perusahaan, tidak terkecuali perusahaan asing.

"Inilah yang kami kampanyekan dalam rapat dan pawai akbar di Aceh. Karena itu, kami mengajak masyarakat Aceh melawan neoliberalisme dan menegakkan syariah Islam," kata dia.

Perjuangan Hizbut Tahrir melawan neoliberalisme, kata dia, semata-mata untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Serta mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

"Indonesia merupakan negara kaya. Banyak negara maupun perusahaan asing mengincar kekayaan tersebut. Jika neoliberalisme merasuki Indonesia, jangan harap rakyatnya sejahtera di atas kekayaan negeri sendiri," ujar Muhammad Ismail Yusanto.

Usai menggelar rapat akbar di Stadion Dimurthala, massa Hizbut Tahrir berpawai dengan jalan berjalan kaki menuju Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, yang jaraknya sekitar empat kilometer.

Editor: Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Baca Juga