Blangpidie (ANTARA) - Ribuan warga Gampong Ie Lhob, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) memadati komplek pemakaman umum desa pada hari kedua lebaran Idul Fitri 1446 Hijriah, Selasa.
Warga menjalankan tradisi turun-temurun yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Kepala Desa Ie Lhob, M Ali, mengungkapkan bahwa tradisi ini telah berlangsung selama beberapa generasi.
"Ini sudah menjadi tradisi dari nenek moyang kami. Setiap hari kedua Idul Fitri, seluruh warga berziarah ke makam orang tua dan keluarga mereka di kawasan perkuburan umum desa," katanya.
Baca juga: Polres Abdya bagikan takjil ke nelayan, langsung diantar ke tengah laut
Adapun ziarah dimulai sejak pagi hingga siang hari, diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Imam Masjid. Setelah acara doa selesai, warga melanjutkan kegiatan silaturahmi dengan berlebaran ke rumah sanak famili di luar desa.
Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada generasi terdahulu yang telah mendahului mereka.
Selain itu, kata dia, ziarah ini memiliki makna religius yang mendalam. Warga mendoakan ampunan kepada almarhum yang telah berpulang dan menempatkannya di surga.
Aktivitas ini mencerminkan nilai-nilai iman yang kokoh sekaligus mempertegas pentingnya doa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Ie Lhob.
Lebih dari sekadar ritual, tradisi ziarah kuburan di Ie Lhob mencerminkan harmoni antara adat, budaya, dan agama yang hidup di tengah masyarakat.
Nilai-nilai kebersamaan, penghormatan, dan spiritualitas menyatu dalam tradisi ini, menjadikannya warisan budaya yang layak dijaga dan diteruskan kepada generasi mendatang.
Ia menyampaikan, semarak tradisi ini juga mencerminkan kehangatan hubungan sosial yang terus terpelihara, memperkuat identitas masyarakat Ie Lhob sebagai komunitas yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan keimanan.
"Dalam suasana lebaran yang penuh berkah, ziarah ini menjadi momen spesial bagi warga untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus menjaga koneksi spiritual dengan para pendahulu mereka," kata M Ali.
Baca juga: Petani Abdya garap 50 persen sawah untuk musim tanam gadu 2025