Bangkit
Kini, Delisa terus belajar untuk berdamai dengan apa yang terjadi. Memang tidak mudah karena dirinya kehilangan keluarga dan kondisi fisik telah berubah. Akan tetapi dirinya mencoba menerima ini sebagai takdir.
"Saya juga mendapatkan dukungan dari keluarga, teman-teman, dan rekan kerja. Itu yang membuat saya bangkit," ujarnya.
Delisa berharap pengalaman yang dialami bisa memberikan pembelajaran bagi orang lain.
“Bencana itu bisa terjadi kapan saja, di mana saja. Saya ingin orang-orang lebih siap dan sadar untuk mengurangi risiko bencana di masa depan,” ujarnya.
Baca juga: Ratusan korban tsunami Gampong Lambung Banda Aceh larut dalam doa
Menghadapi trauma dan kehilangan, Delisa tetap berdiri teguh, berjuang untuk masa depan, dan bertekad agar masyarakat lebih siap menghadapi bencana.
Meskipun kehilangan banyak hal, Delisa tak menyerah. Kini, ia tinggal di daerah pegunungan Ujoeng Batee, Aceh Besar, bersama ibu sambungnya, sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia pada 2015.
Mereka pindah ke daerah pegunungan agar merasa lebih aman. Delisa dan ibunya sangat sensitif terhadap gempa--dengan harapan-- apabila terjadi gempa, maka getaran tidak akan terlalu terasa.
Kini, Delisa bekerja sebagai karyawan di PT Bank Syariah Indonesia di Aceh. Meskipun hidup dengan disabilitas, ia merasa beruntung bisa mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar.
“Saya merasa sangat bersyukur karena BSI memberi kesempatan untuk disabilitas seperti saya. Mereka tidak pernah membedakan kami dengan karyawan lainnya,” ujarnya.
Selain bekerja, Delisa juga aktif berbagi cerita mengenai pengalaman tsunami dan pentingnya mitigasi bencana kepada masyarakat.

Membangun mitigasi
Gempa dan tsunami yang mengguncang Aceh meninggalkan luka mendalam bagi warga Tanah Rencong. Bagi Delisa, peristiwa ini bukan hanya sebuah bencana alam, melainkan titik balik kehidupan yang mengubahnya selamanya.
Kini, 20 tahun setelah kejadian tragis itu, Delisa masih berjuang untuk berdamai dengan masa lalunya, sembari berharap pengalaman pahit tersebut dapat memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat.
Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sabang (STIES) Banda Aceh ini menekankan pentingnya kesadaran dan edukasi kepada masyarakat dalam upaya membangun mitigasi bencana.
Belajar pada hari kejadian saat gempa pertama mengguncang, Delisa bersama keluarga tak tahu harus melakukan apa. Seperti banyak warga lain, mereka tidak memiliki pengetahuan tentang mitigasi bencana, dan akibatnya, banyak yang terjebak dalam kekacauan.
Masyarakat tak ada yang tahu bagaimana cara menyelamatkan diri. Bahkan, saat air laut surut, justru banyak memilih untuk mengutip ikan yang terdampar di pantai. Padahal, seharusnya mereka berlari untuk menyelamatkan diri.
Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman dan kesadaran mitigasi bencana, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, seperti Ulee Lheu dan daerah lainnya.
Delisa menyadari betul mitigasi bencana bukan hanya tugas Pemerintah atau ahli bencana, melainkan juga tanggung jawab setiap individu. Setelah mengalami langsung dampak tsunami, ia bertekad untuk berbagi pengalaman dan membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan.
Baca juga: Seratusan pelajar ikuti simulasi gempa dan tsunami di Aceh
Pendidikan mitigasi bencana harus dimulai dari tingkat keluarga. Setiap keluarga harus memiliki rencana darurat, misalnya, menentukan tempat berkumpul yang aman dan barang apa saja yang harus dibawa apabila terjadi gempa atau tsunami.
"Edukasi seperti ini penting karena bencana bisa datang kapan saja, dan kita tidak pernah tahu di mana atau kapan itu akan terjadi," ujar Delisa.
Mitigasi bencana bukan hanya tentang tindakan yang dilakukan saat bencana terjadi, melainkan juga bagaimana mempersiapkan diri sebelum bencana. Warga harus memiliki pengetahuan dasar tentang tanda-tanda bencana serta langkah-langkah yang harus diambil untuk mengurangi risiko.
Ia menilai salah satu cara yang paling efektif untuk mengurangi risiko bencana adalah dengan membangun kesadaran dan kesiapsiagaan di tingkat komunitas. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi sosial diharapkan terus dapat bekerja sama untuk melakukan sosialisasi yang lebih masif tentang mitigasi bencana.
Pada peringatan dua dekade tsunami, masih banyak warga yang tidak tahu bagaimana cara bertindak ketika bencana. Masyarakat harus lebih paham bahwa kesiapsiagaan adalah kunci untuk menyelamatkan hidup.
Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) Prof. Marwan menyebut pada prinsipnya masyarakat harus ingat bahwa tsunami merupakan kejadian yang berulang. Hal itu dibuktikan berdasarkan arsip kuno, bukti fisik yang tertuang dalam penelitian para ahli.
Kampus akan terus berupaya melakukan edukasi masyarakat dalam rangka membangkitkan memori kolektif bahwa tsunami merupakan kejadian yang berulang, namun tidak ada yang tahu kapan akan terjadi.
Melalui momentum peringatan 20 tahun tsunami, diharapkan masyarakat Aceh jauh lebih siap dan tangguh dalam menghadapi bencana. Tentunya, kampus akan terus mengedukasi dari sisi pendidikan, melalui pusat riset Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), magister kebencanaan, dan juga akan membuka Program Doktor Ilmu Kebencanaan.
“Ini upaya edukasi pembelajaran agar masyarakat kita lebih siap menghadapi berbagai bencana ke depan,” ujar Marwan.
Penjabat Gubernur Aceh Safrizal mengatakan bencana tsunami merupakan salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi, tidak hanya bagi Aceh, tetapi juga bagi dunia.
Dari kehancuran itu, Aceh mampu bangkit dengan semangat luar biasa, dibantu kerja sama dari berbagai pihak, baik dalam negeri maupun luar negeri. Proses pemulihan ini merupakan bukti dari keteguhan hati masyarakat Aceh serta dukungan besar dari komunitas global.
Dua dekade telah berlalu, tetapi pekerjaan bangsa ini belum selesai. Ketangguhan yang dibangun bukan hanya soal infrastruktur, melainkan juga tentang membangun kesadaran, keterampilan, dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan bencana pada masa mendatang.
Editor: Achmad Zaenal M
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Membangun mitigasi dan edukasi bencana dari kisah Delisa